GfC8TSAlTSGoTUAoTfz7GpA9TA==

Prevalensi Stunting Meningkat, Kota Malang Luncurkan Program Kolaborasi dengan Kampus

Malangmalangterkini.id - Angka stunting di Kota Malang, Jawa Timur, mengalami kenaikan yang signifikan. Berdasarkan data dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di kota tersebut mencapai 22,4 persen, meningkat dari angka 17 persen pada tahun sebelumnya. Menanggapi lonjakan ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang meluncurkan program baru bernama "Kabar Penting" atau Kampus Bergerak Peduli Stunting.

Peluncuran program ini diadakan di Ruang Sidang Balai Kota Malang, dan dihadiri oleh 27 perguruan tinggi yang berfokus pada bidang kesehatan. Program ini bertujuan untuk memperkuat intervensi melalui edukasi, riset, dan pemberdayaan masyarakat. Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Malang, Erik Setyo Santoso, yang mewakili Wali Kota Malang, secara resmi meluncurkan program ini.

Kolaborasi Lintas Sektor sebagai Kunci

Erik Setyo Santoso menyampaikan harapannya agar para civitas akademika dapat hadir dan berperan aktif di tengah masyarakat. Ia melihat program "Kabar Penting" sebagai langkah awal yang strategis untuk memulai aksi nyata dalam penanganan stunting. Erik juga memberikan apresiasi kepada berbagai pihak, termasuk perangkat daerah, puskesmas, kader posyandu, dunia pendidikan, dan organisasi masyarakat yang selama ini telah berkontribusi.

"Mari kita jadikan momen ini sebagai penguat komitmen bersama untuk memastikan setiap anak di Kota Malang tumbuh sehat, cerdas, dan penuh harapan, karena itulah fondasi masa depan bangsa kita," ujar Erik.

Erik menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor merupakan kunci utama agar Kota Malang bisa terbebas dari masalah stunting dan kekurangan gizi.


Peran Perguruan Tinggi dalam Penanganan Stunting

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, Husnul Muarif, menjelaskan bahwa keterlibatan perguruan tinggi dalam penanganan stunting adalah langkah baru. Sebelum peluncuran, pihaknya telah melakukan serangkaian koordinasi dan diskusi daring untuk menyusun konsep program yang terstruktur.

"Perangkat daerah lintas sektor sudah bergerak, tapi yang belum terpikir adalah perguruan tinggi. Maka kami membuat pola agar perguruan tinggi, terutama yang memiliki basis kesehatan, bisa berperan aktif dalam penanganan stunting," kata Husnul.

Dalam program "Kabar Penting", 27 perguruan tinggi akan membina dan memantau 57 kelurahan. Setiap kampus akan mengampu dua hingga tiga kelurahan, bekerja sama dengan organisasi profesi seperti dokter, bidan, dan perawat. Fokus kegiatan mencakup pola asuhan keperawatan dan kebidanan, serta penanganan balita stunting yang mengalami gangguan pertumbuhan.

Targetnya, pada survei gizi akhir tahun 2025, angka stunting di Kota Malang dapat diturunkan mendekati target nasional yang berada di kisaran 14-17 persen. Program ini mulai dijalankan pada bulan Agustus 2025 dan akan dievaluasi pada akhir tahun. Untuk tahun 2026, Pemkot Malang menargetkan penambahan partisipan menjadi 67 perguruan tinggi untuk memperluas jangkauan program.

Advertisement
pasang iklan media online nasional pewarta network
Advertisement
pasang iklan media online nasional pewarta network
Advertisement
pasang iklan media online nasional pewarta network

Ketik kata kunci lalu Enter

close
pasang iklan media online nasional pewarta network