Malang, malangterkini.id - Polres Malang menjadi salah satu titik pusat kegiatan bagi para Peserta Didik Sekolah Staf dan Pimpinan Menengah (Sespimma) Polri Angkatan ke-74 Tahun 2025. Kedatangan mereka merupakan bagian integral dari agenda Praktek Kerja Profesi (PKP) yang dilaksanakan secara serentak di wilayah hukum Polda Jawa Timur. Aktivitas ini dirancang untuk menjembatani teori yang diperoleh di bangku pendidikan dengan implementasi nyata di lapangan, sekaligus menanamkan nilai-nilai kepedulian sosial yang mendalam.
Kegiatan yang terpusat di Polres Malang ini dipimpin langsung oleh sosok penting di institusi pendidikan kepolisian, yakni Kepala Sespimma Lemdiklat Polri, Brigjen Pol Sonny Irawan. Sebanyak 21 peserta didik yang tergabung dalam Kelompok Kerja Belajar (Pokjar) II turut serta dalam rangkaian acara yang kaya akan muatan kemanusiaan dan lingkungan.
Implementasi Tiga Pilar Pendidikan
Dalam kegiatan ini, para peserta didik Sespimma Polri tidak hanya berfokus pada analisis manajerial dan kepemimpinan, tetapi juga melaksanakan inisiatif nyata berupa bantuan sosial. Bantuan tersebut berupa penyerahan paket sembako dan santunan yang ditujukan kepada 75 anak yatim dari berbagai panti asuhan di wilayah tersebut, serta 50 Pekerja Harian Lepas (PHL) yang bertugas di lingkungan Polres Malang.
Brigjen Pol Sonny Irawan menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian krusial dari kurikulum PKP Sespimma Polri yang tersebar di lima wilayah utama di Jawa Timur, yaitu Polresta Malang Kota, Polres Malang, Polres Batu, Polres Pasuruan, dan Polres Pasuruan Kota.
"Kami melaksanakan kegiatan praktek kerja lapangan di wilayah Polda Jawa Timur ini dengan tujuan ganda. Pertama, sebagai arena penerapan ilmu kepemimpinan dan manajerial yang telah mereka pelajari. Kedua, dan ini yang sangat penting, sebagai sarana menanamkan nilai moral, tanggung jawab sosial, dan kepedulian yang tinggi kepada masyarakat," ujar Brigjen Sonny Irawan pada hari Selasa (11/11/2025).
Ia menekankan bahwa pendidikan di Sespimma Lemdiklat Polri berpegangan pada tiga pilar utama: pengajaran (ilmu), pelatihan (keterampilan), dan pengasuhan (moral/spiritual). Kegiatan bakti sosial ini secara eksplisit mengedepankan pilar pengasuhan, memastikan setiap calon pemimpin Polri memiliki empati yang kuat terhadap kondisi sosial di lapangan.
Kepedulian Lingkungan dan Kemanusiaan
Selain fokus pada bantuan sosial, kegiatan di Polres Malang juga diisi dengan agenda yang menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan hidup dan kemanusiaan. Agenda tersebut meliputi:
Pelepasan Simbolis 75 Ekor Burung: Sebagai simbol kebebasan, pemulihan ekosistem, dan penghormatan terhadap alam.
Penanaman Pohon: Sebuah upaya nyata untuk berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim lokal dan penghijauan lingkungan Polres.
Donor Darah: Aksi kemanusiaan yang secara langsung berkontribusi pada pemenuhan stok darah di Palang Merah Indonesia (PMI) setempat.
Rangkaian kegiatan ini menegaskan filosofi pendidikan Sespimma yang tidak hanya mencetak manajer keamanan yang handal, tetapi juga pribadi yang utuh dan bertanggung jawab terhadap berbagai aspek kehidupan.
Keseimbangan Hard Competency dan Soft Competency
Lebih lanjut, Brigjen Sonny menambahkan bahwa inti dari pendidikan di Sespimma adalah mencapai keseimbangan sempurna antara hard competency dan soft competency. Hard competency mencakup kemampuan akademis, analisis masalah, dan keterampilan praktis dalam penegakan hukum. Sementara soft competency mencakup dimensi moral, spiritual, kepemimpinan transformasional, dan kemampuan berinteraksi secara humanis dengan masyarakat.
"Kami berupaya keras untuk membentuk polisi yang berpengetahuan luas, berintegritas tinggi, dan beriman kuat. Harapannya, para serdik (peserta didik) yang lulus nantinya benar-benar mampu menjadi polisi yang diharapkan dan dicintai oleh masyarakat, terutama di tengah sorotan tajam dan tuntutan Reformasi Polri," tegasnya, menyoroti pentingnya perubahan positif di tubuh kepolisian.
Transformasi Pelayanan Publik: Menjadikan Profesi Polri Ladang Ibadah
Sebagai penutup, Brigjen Sonny Irawan memberikan penekanan khusus pada urgensi transformasi pelayanan publik dalam internal Polri. Ia menekankan bahwa anggota Polri harus mampu menghadirkan pelayanan yang tidak hanya profesional, tetapi juga humanis, mudah diakses, dan bebas dari kerumitan birokrasi yang tidak perlu.
Ia merangkum pandangan filosofisnya mengenai tugas kepolisian dengan sebuah pesan kunci yang kuat: memudahkan urusan masyarakat.
"Kata kuncinya, kami berusaha memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. Urusan orang jangan dipersulit, permudah jalan mereka. Dan yang paling penting, jadikan profesi Polri ini sebagai ladang ibadah dan pengabdian. InsyaAllah, dengan niat yang tulus, itu akan membawa kebaikan bagi kita semua, bagi institusi, dan bagi masyarakat yang kita layani," pungkasnya, menutup kegiatan dengan harapan agar nilai-nilai ini tertanam kuat dalam diri setiap calon pimpinan Polri di masa depan.


.png)


