Kota Batu, malangterkini.id - Kota Batu menghadapi peningkatan signifikan dalam jumlah insiden bencana sepanjang tahun 2025 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dari total ratusan kasus yang tercatat oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, bencana tanah longsor menjadi jenis bencana yang paling sering terjadi.
Data ini menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Batu, mengingat fenomena alam yang akan dihadapi.
Tren Kenaikan Jumlah Bencana (2024 vs. 2025)
Menurut data resmi dari BPBD Kota Batu, terjadi lonjakan kasus bencana alam maupun non-alam yang cukup mencolok dari tahun 2024 ke tahun 2025.
| Jenis Bencana | Jumlah Kasus 2024 | Jumlah Kasus 2025 (1 Jan - 11 Nov) | Peningkatan (Kasus) |
| Tanah Longsor | 56 | 98 | +42 |
| Angin Kencang/Cuaca Ekstrem | 28 | 37 | +9 |
| Banjir | 22 | 19 | -3 |
| Kebakaran Rumah/Bangunan | 10 | 10 | 0 |
| Kebakaran Hutan/Lahan | 6 | 1 | -5 |
| TOTAL KASUS | 122 | 165 | +43 |
Hingga tanggal 11 November 2025, total telah tercatat 165 kasus bencana di tahun 2025, menunjukkan kenaikan sebanyak 43 kasus dari total 122 kasus yang terjadi sepanjang tahun 2024. Peningkatan terbesar disumbangkan oleh kasus tanah longsor, yang naik dari 56 menjadi 98 kejadian.
Distribusi Kasus Berdasarkan Wilayah
Plt Kepala BPBD Kota Batu, Suwoko, menjelaskan bahwa 165 kasus bencana yang terjadi pada tahun 2025 ini tersebar di tiga wilayah kecamatan di Kota Batu.
Kecamatan Junrejo: 22 kasus
Kecamatan Batu: 61 kasus
Kecamatan Bumiaji: 82 kasus (Tertinggi)
"Dari asesmen yang kami lakukan, dampak yang ditimbulkan dari ratusan kejadian ini sangat beragam, mulai dari kerusakan rumah dan bangunan, kios, lahan pertanian, hingga mengganggu sarana prasarana vital seperti jaringan air bersih dan jaringan listrik," ujar Suwoko pada Rabu (12/11/2025).
Suwoko juga memastikan bahwa setiap dampak yang disebabkan oleh bencana alam segera direspons dengan cepat tanggap darurat oleh tim petugas BPBD Kota Batu, melalui kolaborasi erat dengan berbagai pihak terkait.
Kesiapan Menghadapi Puncak Musim Hujan
Menanggapi tingginya frekuensi dan jumlah kejadian bencana, terutama yang bersifat hidrometeorologi, Pemerintah Kota Batu bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Batu telah mengambil langkah antisipatif.
Pada tanggal 11 November 2025, digelar Apel Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi untuk menghadapi potensi musim hujan 2025-2026.
Apel ini bertujuan sebagai langkah awal dan penekanan untuk memastikan bahwa seluruh elemen terkait, mulai dari pemerintah daerah, masyarakat, hingga lembaga kebencanaan, berada dalam kondisi kesiapan penuh menghadapi segala potensi bencana yang mungkin terjadi sewaktu-waktu. Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi fokus utama yang tengah ditingkatkan.
Peringatan Dini dan Faktor Pendorong
Prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengindikasikan bahwa sekitar 43,8% wilayah Indonesia telah memasuki musim penghujan. Puncak dari musim hujan ini diperkirakan akan terjadi pada periode November 2025 hingga Januari 2026.
Lebih lanjut, risiko curah hujan ekstrem semakin dipertinggi dengan adanya fenomena La Niña yang diprediksi oleh BMKG akan berlangsung hingga Februari 2026. Fenomena ini secara umum memicu peningkatan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Kota Batu yang merupakan daerah dataran tinggi dengan kerentanan tinggi terhadap tanah longsor.
Kesiapsiagaan dan kolaborasi yang ditingkatkan menjadi kunci utama bagi Kota Batu untuk meminimalisir dampak buruk dari potensi bencana hidrometeorologi yang mengintai di akhir tahun 2025 dan awal tahun 2026.


.png)


