GfC8TSAlTSGoTUAoTfz7GpA9TA==

Pencarian Lanjutan Jamaah Haji Malang yang Hilang: Keluarga Sukardi Jalani Tes DNA di Surabaya

Malang, malangterkini.id - Ketidakpastian yang telah menyelimuti keluarga selama lebih dari enam bulan akhirnya mendorong langkah lanjutan yang emosional namun penting. Sukardi, seorang jemaah haji asal Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang dilaporkan hilang di Kota Suci Makkah sejak akhir Mei 2025, hingga kini belum ditemukan titik terangnya. Untuk memperoleh kepastian setelah pencarian intensif yang tak kunjung membuahkan hasil, keluarga Sukardi kini telah menempuh proses identifikasi lanjutan, yaitu dengan menjalani pengambilan sampel DNA di Asrama Haji Embarkasi Surabaya pada Selasa (16/12/2025).

Amin, putra ketiga dari Sukardi, hadir untuk memenuhi panggilan dari Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Malang. Kedatangan Amin ke Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, adalah untuk mengikuti prosedur tes DNA yang bertujuan mencocokkan profil genetiknya dengan data yang dimiliki otoritas Arab Saudi. Langkah ini diambil sebagai upaya terakhir untuk memastikan apakah almarhum Sukardi termasuk di antara sejumlah jemaah haji yang ditemukan meninggal dunia tanpa identitas yang jelas di Makkah selama musim haji tahun lalu.

Selama rentang waktu lebih dari setengah tahun terakhir, sejak tanggal hilangnya pada 29 Mei 2025, keluarga Sukardi mengaku hidup dalam suasana yang penuh harap dan cemas. Mereka menghadapi realitas yang sulit bahwa ayah mereka, yang sudah berusia lanjut dan diketahui memiliki riwayat penyakit demensia—suatu kondisi yang mempengaruhi daya ingat dan orientasi—dilaporkan menghilang di tengah padatnya pelaksanaan ibadah haji. Kondisi demensia ini ditengarai menjadi faktor utama yang menyebabkan Sukardi tersesat dan kesulitan kembali ke akomodasinya.

Upaya pencarian yang dilakukan oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, bekerjasama dengan tim Pelindungan Jemaah (Linjam), telah dilakukan secara maksimal. Pencarian gencar dilakukan di berbagai sudut Kota Makkah, mulai dari lokasi-lokasi ibadah, hotel-hotel, hingga rumah sakit, bahkan berlanjut hingga seluruh kloter jemaah haji Indonesia telah kembali ke Tanah Air. Namun, sayangnya, semua upaya sistematis tersebut tidak membuahkan hasil, dan keberadaan Sukardi tetap menjadi misteri yang belum terpecahkan.

Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Malang, Abdul Salam, membenarkan bahwa pihaknya telah memfasilitasi pelaksanaan tes DNA bagi ahli waris Sukardi sebagai bentuk ikhtiar atau usaha lanjutan dalam menyelesaikan kasus ini. Inisiatif tes DNA ini muncul setelah Kantor Kementerian mendapatkan informasi penting dari otoritas haji terkait adanya penemuan sejumlah jenazah jemaah haji yang tidak teridentifikasi di Kota Suci.

"Setelah kami menerima informasi resmi dari Kementerian Haji dan Umrah mengenai banyaknya jemaah yang ditemukan meninggal tanpa identitas di Makkah, kami langsung mengambil langkah proaktif. Kami segera mengundang pihak keluarga Sukardi, yang diwakili oleh Bapak Amin, untuk menjalani tes DNA di klinik yang tersedia di Asrama Haji Sukolilo," jelas Abdul Salam saat ditemui di lokasi Embarkasi Surabaya pada hari Selasa tersebut.

Proses pengambilan sampel DNA yang dilakukan terhadap Amin merupakan bagian dari metode pemeriksaan yang lebih luas dan detail. Tes DNA tersebut dilaksanakan oleh tim forensik dari Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Markas Besar Polri. Menurut informasi, tim Pusdokkes menggunakan metode pemeriksaan dental—yaitu melalui pencocokan data mulut dan gigi—selain metode DNA standar untuk memperkuat proses identifikasi dan memastikan akurasi hasil pencocokan.

Lebih lanjut, informasi mengenai riwayat Sukardi sebelum keberangkatan juga menambah kompleksitas kasus ini. Mochammad Fairus, Pembimbing Jemaah Haji Kloter 79 dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Walisongo Kepanjen Malang, mengungkapkan bahwa insiden serupa ternyata pernah dialami Sukardi bahkan sebelum menginjakkan kaki di Arab Saudi.

"Saat masih berada di Asrama Haji Sukolilo sebelum terbang, Bapak Sukardi sudah sempat hilang dan membuat kami panik, namun saat itu beliau berhasil ditemukan kembali dengan cepat. Sayangnya, kejadian di Makkah ini berbeda. Beliau dilaporkan meninggalkan hotel dua hari setelah tiba di sana. Saat itu beliau mengenakan pakaian batik dan membawa tas kecil," ungkap Fairus. Ia menambahkan, sejak saat itu, Sukardi belum pernah ditemukan kembali.

Seperti yang telah dikabarkan sebelumnya, hilangnya Sukardi di Makkah sejak 29 Mei 2025 menjadi salah satu kasus jemaah haji yang paling sulit diselesaikan pada musim itu. Meskipun berbagai upaya pencarian telah dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk pihak hotel dan sektor terkait, keberadaan jemaah haji lanjut usia tersebut masih diselimuti misteri hingga saat ini. Tes DNA ini pun menjadi harapan terakhir dan paling konkret bagi keluarga untuk mendapatkan kepastian hukum dan kepastian status mengenai nasib Sukardi, yang telah hilang selama berbulan-bulan di negeri orang. Hasil dari tes DNA tersebut kini sangat dinantikan oleh keluarga dan otoritas terkait.

Advertisement
pasang iklan media online nasional pewarta network
Advertisement
pasang iklan media online nasional pewarta network
Advertisement
pasang iklan media online nasional pewarta network

Ketik kata kunci lalu Enter

close
pasang iklan media online nasional pewarta network