Malang, malangterkini.id - Akses utama para wisatawan yang hendak menikmati keindahan matahari terbit di Gunung Bromo melalui jalur Kabupaten Malang sempat mengalami lumpuh total. Hal ini terjadi setelah bencana tanah longsor menerjang beberapa titik vital di sepanjang jalur tersebut. Material tanah yang tebal sempat memutus mobilitas kendaraan, sehingga memaksa pihak berwenang melakukan rekayasa lalu lintas demi keamanan publik.
Titik Lokasi dan Penyebab Terjadinya Bencana
Bencana hidrometeorologi ini tidak hanya terjadi di satu lokasi, melainkan tersebar di tiga titik berbeda yang merupakan akses krusial menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).
Titik Pertama: Kawasan Jalan Raya Gubugklakah, lokasi yang sangat dekat dengan destinasi wisata Coban Bidadari.
Titik Kedua dan Ketiga: Berada di wilayah Desa Taji, Kecamatan Jabung, tepatnya pada jalur yang mengarah ke wilayah Umbutlegi.
Penyebab utama dari runtuhnya tebing ini adalah cuaca ekstrem yang melanda wilayah Malang Timur. Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, hujan dengan intensitas menengah hingga tinggi mengguyur wilayah Poncokusumo sejak Kamis sore, 8 Januari, sekitar pukul 15.00 WIB. Curah hujan yang terus-menerus ini membuat kondisi tanah menjadi jenuh air dan tidak stabil, hingga akhirnya tebing setinggi 35 meter ambrol dan menutupi badan jalan.
Dampak Terhadap Akses Pariwisata
Longsoran yang paling signifikan terjadi pada Kamis malam sekitar pukul 20.00 WIB di area Coban Bidadari. Material berupa tumpukan tanah liat dan bongkahan batu besar menutup jalan sepanjang kurang lebih 10 meter. Ketebalan material yang mencapai 1 hingga 1,5 meter mustahil untuk dibersihkan dengan alat seadanya, sehingga jalur tersebut benar-benar tidak dapat dilalui oleh kendaraan jenis apa pun.
Akibat dari kejadian ini, para wisatawan yang sudah merencanakan perjalanan menuju Bromo dari arah Malang terpaksa harus mengubah rencana perjalanan mereka. Petugas di lapangan segera mengarahkan arus lalu lintas untuk berputar arah dan menggunakan jalur alternatif melalui wilayah Kabupaten Pasuruan (Tosari). Meskipun sempat menghambat perjalanan, BPBD mengonfirmasi bahwa tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa ini.
Proses Evakuasi dan Pembersihan Material
Langkah cepat diambil oleh tim gabungan segera setelah cuaca memungkinkan untuk dilakukan pembersihan. Pada Jumat pagi, 9 Januari, operasi pembersihan besar-besaran mulai dilaksanakan di bawah koordinasi BPBD Kabupaten Malang.
Berikut adalah beberapa elemen yang terlibat dalam proses pemulihan jalur:
Alat Berat: Dinas Bina Marga mengerahkan satu unit ekskavator untuk mengeruk material tanah dan bebatuan besar dari badan jalan.
Penyemprotan Air: Unit Pemadam Kebakaran (Damkar) diterjunkan untuk menyemprot sisa-sisa tanah yang licin agar aspal kembali bersih dan aman untuk dilalui ban kendaraan.
Tenaga Manusia: Ratusan personel gabungan dari berbagai instansi, TNI, Polri, serta para relawan kebencanaan dari Desa Gubugklakah bahu-membahu melakukan pembersihan manual menggunakan cangkul dan sekop di area yang tidak terjangkau alat berat.
Kondisi Terkini dan Imbauan Bagi Pengendara
Hingga Jumat siang pukul 11.40 WIB, progres penanganan material longsor telah mencapai angka 75 persen. Berkat kerja keras tim di lapangan, jalur utama yang menghubungkan Poncokusumo dengan Bromo sudah mulai bisa dibuka kembali. Namun, karena proses pembersihan sisa-sisa tanah masih berlangsung, petugas menerapkan sistem buka-tutup arus.
Artinya, kendaraan roda dua maupun roda empat sudah diperbolehkan melintas secara bergantian. Para pengendara diimbau untuk tetap waspada dan berhati-hati, mengingat kondisi jalan yang mungkin masih agak licin serta potensi longsor susulan jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi di wilayah tersebut.


.png)


