Malang, malangterkini.id - Stadion Gajayana bukan sekadar tumpukan beton dan rumput hijau bagi seorang Kuncoro. Di tempat inilah, berpuluh-puluh tahun silam, ia mulai merajut mimpi sebagai pesepak bola profesional. Di stadion yang kini genap berusia satu abad ini pula, sang legenda mengembuskan napas terakhirnya, menutup lembaran hidupnya tepat di tempat segalanya bermula.
Perayaan yang Berubah Menjadi Duka
Sore itu, atmosfer di Stadion Gajayana sebenarnya diselimuti semangat nostalgia. Agenda laga persahabatan bertajuk trofeo digelar khusus untuk memperingati hari jadi ke-100 stadion bersejarah di jantung Kota Malang tersebut. Kuncoro, yang kini menjabat sebagai asisten pelatih Arema FC, hadir dengan senyum khasnya yang jenaka, bersiap memberikan penghormatan terakhir bagi stadion yang membesarkan namanya.
Pada babak pertama, pria berusia 52 tahun itu masih sempat merumput. Mengenakan jersey kebanggaan, ia menunjukkan sisa-sisa ketangguhannya bersama para legenda sepak bola Malang lainnya seperti Hermawan, Doni Suherman, hingga Siswantoro. Tidak ada tanda-tanda kelelahan yang luar biasa; Kuncoro bermain normal, sesekali melempar canda kepada rekan setimnya di tengah lapangan.
Detik-Detik Menegangkan di Bangku Cadangan
Usai menuntaskan tugasnya di babak pertama, Kuncoro ditarik keluar untuk beristirahat. Ia duduk di bangku cadangan (bench) pemain, menyeka keringat sambil mengamati jalannya pertandingan. Namun, ketenangan itu hanya bertahan sesaat. Suasana ceria mendadak berubah menjadi kepanikan massal ketika sosok yang dikenal sebagai pribadi humoris itu tiba-tiba jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri di kursinya.
Rekan-rekan setim dan tim medis yang ada di lokasi segera memberikan pertolongan pertama. Upaya resusitasi dan berbagai tindakan darurat dilakukan dengan sekuat tenaga untuk mengembalikan kesadaran pelatih berlisensi A Nasional tersebut. Sayangnya, situasi menjadi semakin pelik karena sebuah kendala teknis yang fatal.
Kendala Ambulans dan Perjuangan Terakhir
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, kepanikan semakin memuncak ketika diketahui tidak ada unit ambulans yang dalam posisi standby di dalam area stadion saat insiden terjadi. Tim medis terpaksa harus menunggu bantuan ambulans dari luar stadion untuk mengevakuasi Kuncoro.
Waktu yang terus berjalan terasa sangat lambat di tengah situasi kritis tersebut. Setelah ambulans tiba, Kuncoro segera dilarikan menuju Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang. Namun, takdir berkata lain. Meski tim dokter telah berupaya maksimal, nyawa pria yang telah mengabdi sebagai asisten pelatih Arema FC sejak 1 November 2011 itu tidak dapat diselamatkan. Kuncoro dinyatakan meninggal dunia, meninggalkan duka yang mendalam bagi dunia kulit bundar tanah air.
Kehilangan Besar bagi Singo Edan
Kepergian Kuncoro merupakan pukulan telak bagi keluarga besar Arema FC, Aremania, dan seluruh insan sepak bola nasional. General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, mengungkapkan rasa syok yang luar biasa atas kepergian mendadak sosok yang akrab disapa "Cak Kun" tersebut.
"Kami semua sangat terpukul. Bagi kami, Cak Kun adalah simbol loyalitas. Stadion Gajayana adalah saksi bisu perjalanan hidupnya; tempat ia memulai karier, merajut mimpi, dan hari ini, Allah memanggilnya pulang di stadion yang sama," ujar Yusrinal dengan nada yang bergetar menahan tangis.
Inal—sapaan akrab Yusrinal—menambahkan bahwa meninggalnya Kuncoro di saat momen 100 tahun Stadion Gajayana seolah menjadi tanda bahwa ia telah menyelesaikan tugasnya dengan paripurna di "rumah" yang paling ia cintai. Ia pergi saat sedang merasa bahagia, dikelilingi oleh sahabat-sahabat lama dan suasana lapangan hijau yang telah menjadi bagian dari jiwanya selama puluhan tahun.
Warisan Loyalitas yang Abadi
Sejak bergabung dengan staf kepelatihan Arema pada tahun 2011, Kuncoro dikenal sebagai figur yang tak tergantikan. Loyalitasnya terhadap klub yang berdiri sejak 1987 ini sangat tinggi, melampaui sekadar urusan kontrak profesional. Ia adalah sosok penengah, motivator, sekaligus penghibur di ruang ganti pemain.
Ketegasan di lapangan yang dibalut dengan sifat setia kawan menjadikannya sosok yang sangat dihormati oleh pemain muda maupun senior. Kepergiannya meninggalkan celah besar di jajaran kepelatihan Singo Edan yang sulit untuk diisi oleh siapapun.
Kini, tidak ada lagi candaan khas Cak Kun di pinggir lapangan. Namun, dedikasinya akan tetap hidup dalam sejarah sepak bola Malang. Mari kita panjatkan doa terbaik, semoga almarhum Kuncoro mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya, dilapangkan kuburnya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan.
Selamat jalan, Abah Kun. Perjuanganmu abadi di hati Aremania.


.png)


