Malang, malangterkini.id - Kota Malang berhasil menutup tahun 2025 dengan rapor ekonomi yang cukup impresif. Di tengah fluktuasi harga barang dan jasa, stabilitas ekonomi di kota pendidikan ini tetap terjaga dengan baik. Berdasarkan laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan (year-on-year) Kota Malang tercatat di angka 2,81 persen.
Angka ini menjadi pencapaian positif bagi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), mengingat capaian Malang lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata inflasi Provinsi Jawa Timur yang menyentuh 2,93 persen, maupun inflasi di tingkat nasional yang berada di angka 2,92 persen.
Parameter Keamanan dan Stabilitas Harga
Kepala BPS Kota Malang, Umar Sjaifudin, menegaskan bahwa posisi inflasi saat ini masih berada dalam koridor yang sehat. Secara makroekonomi, rentang inflasi yang dianggap ideal dan aman bagi pertumbuhan ekonomi daerah berkisar antara 1,5 hingga 3,5 persen. Dengan capaian 2,81 persen, daya beli masyarakat Malang dinilai masih cukup kuat dan tidak tergerus oleh lonjakan harga yang ekstrem.
Analisis Komoditas: Emas dan Pangan sebagai Kontributor Utama
Meskipun secara keseluruhan terkendali, terdapat beberapa kelompok barang yang memberikan tekanan signifikan terhadap angka inflasi sepanjang tahun 2025. Berikut adalah rincian kontributor utamanya:
1. Kilau Harga Emas yang Tak Terbendung
Komoditas perhiasan, khususnya emas, menjadi "pemeran utama" dalam kenaikan indeks harga. Harga emas mengalami lonjakan fantastis sebesar 61,73 persen sepanjang tahun. Fenomena ini memberikan andil inflasi sebesar 0,90 persen, menjadikannya faktor tunggal terbesar yang memengaruhi angka inflasi di Kota Malang.
2. Dinamika Harga Pangan Pokok
Sektor pangan tetap menjadi perhatian serius karena bersentuhan langsung dengan kebutuhan harian warga. Beberapa komoditas yang memberikan andil inflasi antara lain:
Beras: Memberikan kontribusi sebesar 0,22 persen.
Cabai Rawit: Memberikan andil sebesar 0,09 persen.
Daging Ayam Ras: Menyumbang angka sebesar 0,08 persen.
Telur Ayam Ras: Berkontribusi sebesar 0,06 persen.
3. Sektor Energi dan Gaya Hidup
Selain pangan dan emas, inflasi juga dipicu oleh penyesuaian harga di sektor energi dan barang konsumsi lainnya:
Bahan Bakar Rumah Tangga: Memberikan andil 0,15 persen.
Sigaret Kretek Mesin (SKM): Berkontribusi sebesar 0,07 persen.
Bensin: Mengalami tekanan harga akibat penyesuaian BBM non-subsidi di akhir tahun.
Kontribusi Inflasi Kota Malang 2025
| Komoditas | Kenaikan Harga / Peran | Andil Terhadap Inflasi |
| Emas Perhiasan | Naik 61,73% | 0,90% |
| Beras | Bahan Pokok Utama | 0,22% |
| Bahan Bakar RT | Gas/Energi | 0,15% |
| Cabai Rawit | Faktor Cuaca | 0,09% |
| Daging Ayam Ras | Permintaan Tinggi | 0,08% |
| Rokok (SKM) | Cukai/Gaya Hidup | 0,07% |
Faktor Pemicu: Cuaca dan Kebijakan Energi
Melihat fenomena ini, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Malang, Febrina, memberikan tinjauan dari sisi suplai dan permintaan (supply and demand). Menurutnya, inflasi pada komoditas seperti cabai rawit dan bawang merah murni disebabkan oleh faktor eksternal.
"Curah hujan yang tinggi sepanjang tahun telah mengganggu siklus produksi di tingkat petani serta menghambat jalur distribusi. Hal ini menyebabkan stok di pasar terbatas, sementara permintaan masyarakat terus meningkat," jelas Febrina.
Selain faktor alam, penyesuaian harga bensin non-subsidi yang berlaku per 1 Desember 2025 turut memberikan efek kejut sesaat pada indeks harga konsumen di bulan penutup tahun. Sedangkan untuk emas, tren kenaikan harga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global yang terus merangkak naik hingga penghujung Desember.
Proyeksi Kedepan
Dengan terjaganya inflasi di bawah angka 3 persen, Pemkot Malang bersama BI diharapkan terus memperkuat koordinasi untuk memastikan pasokan pangan tetap lancar, terutama dalam menghadapi tantangan cuaca di awal tahun 2026. Fokus pada kelancaran distribusi dan operasi pasar murah diyakini akan menjadi kunci dalam mempertahankan stabilitas harga ke depan.


.png)


