Kota Batu, malangterkini.id - Dinamika pariwisata di Kota Batu, Jawa Timur, menunjukkan fenomena unik pada penghujung tahun 2025. Memasuki periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), peta preferensi wisatawan dalam memilih tempat menginap mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Jika biasanya hotel berbintang menjadi indikator utama keramaian, kali ini sektor non-hotel seperti villa dan homestay justru menjadi bintang utama yang paling banyak diburu oleh pelancong.
Lonjakan Signifikan Sektor Homestay dan Villa
Berdasarkan data yang dihimpun dari Indonesia Homestay Association (IHSA) Kota Batu, geliat pemesanan akomodasi jenis ini sudah mulai merangkak naik sejak pertengahan Desember 2025. Ketua IHSA Kota Batu, Natalina, mengungkapkan bahwa grafik okupansi menunjukkan tren positif yang konsisten seiring mendekatnya malam pergantian tahun.
"Pada periode pertengahan Desember, angka keterisian masih berada di kisaran 40 persen. Namun, angka ini melonjak tajam saat memasuki libur Natal, di mana okupansi menyentuh angka 75 hingga 80 persen," jelas Natalina pada Rabu (31/12/2025).
Hingga detik-detik menjelang malam tahun baru, tren kenaikan ini belum berhenti. Natalina mencatat bahwa tingkat hunian saat ini telah mencapai 85 persen. Meski belum sepenuhnya terisi penuh (sold out), pencapaian ini diklaim jauh lebih baik jika dibandingkan dengan performa pada periode yang sama di tahun 2024, dengan kenaikan sekitar 10 persen.
Mengapa Wisatawan Beralih ke Villa?
Ada beberapa faktor kunci yang membuat villa dan homestay lebih unggul di mata wisatawan tahun ini:
Faktor Ekonomis dan Kapasitas: Berbeda dengan hotel yang biasanya menetapkan tarif per kamar untuk dua orang, villa menawarkan konsep hunian satu rumah. Hal ini memungkinkan wisatawan yang datang bersama keluarga besar atau rombongan untuk tinggal dalam satu atap dengan biaya yang jauh lebih hemat jika dihitung per kepala.
Fasilitas yang Kian Modern: Pelaku usaha villa di Kota Batu terus berbenah. Banyak villa kini dilengkapi dengan fasilitas mewah layaknya hotel, mulai dari kolam renang pribadi, dapur modern, hingga ruang hiburan yang lengkap.
Keamanan dari Penipuan: IHSA menekankan pentingnya profesionalisme pengelolaan, termasuk melalui media sosial. Penggunaan platform digital yang tertata rapi membantu calon tamu memverifikasi keaslian properti, sehingga meminimalisir risiko terjebak "villa bodong" atau penipuan daring.
Rincian Harga Sewa di Masa High Season
Selama periode high season Nataru, terjadi penyesuaian harga di sektor villa. Rata-rata kenaikan harga berkisar antara Rp 500.000 hingga Rp 700.000 per unit dibandingkan hari biasa.
Villa Standar (3-4 Kamar): Dibanderol mulai dari Rp 1,5 juta per malam.
Villa Mewah (6 Kamar + Kolam Renang): Bisa mencapai harga Rp 4 juta per malam.
Kondisi Kontras di Sektor Perhotelan
Pemandangan berbeda justru terlihat di sektor perhotelan. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu melaporkan adanya penurunan tingkat hunian dibandingkan tahun sebelumnya. Ketua PHRI Kota Batu, Sujud Hariadi, menyampaikan bahwa okupansi hotel rata-rata masih tertahan di bawah angka 70 persen pada malam pergantian tahun.
"Ini adalah penurunan yang cukup terasa. Jika pada malam tahun baru tahun lalu kita bisa mencapai angka 90 persen, tahun ini bertahan di angka 70 persen saja sudah merupakan tantangan," ungkap Sujud.
Analisis Penyebab Penurunan Okupansi Hotel
Sujud Hariadi mengidentifikasi dua faktor utama yang menjadi penyebab lesunya sektor hotel di Batu tahun ini:
Penurunan Daya Beli: Kondisi ekonomi secara makro nampaknya mempengaruhi anggaran liburan masyarakat. Wisatawan kini lebih selektif dan cenderung mencari alternatif akomodasi yang lebih terjangkau namun tetap memberikan kenyamanan.
Persaingan Antar-Daerah: Kota Batu tidak lagi "bermain sendiri" dalam industri pariwisata. Pesatnya pembangunan destinasi wisata baru di kabupaten/kota lain, hingga provinsi tetangga, membuat pilihan wisatawan semakin terpecah. Ketatnya kompetisi destinasi ini menuntut pelaku usaha hotel di Batu untuk lebih inovatif dalam memberikan nilai tambah bagi tamu.
Fenomena Nataru 2026 ini menjadi sinyal penting bagi para pelaku industri pariwisata di Kota Batu. Sementara sektor villa menikmati panen kunjungan, sektor hotel nampaknya harus mulai mengevaluasi strategi pemasaran dan penyesuaian harga agar tetap kompetitif di tengah perubahan perilaku konsumen yang kian dinamis.


.png)


