Malang, malangterkini.id - Dunia pendidikan di Kabupaten Malang saat ini tengah diguncang oleh kabar miring yang melibatkan tindakan kekerasan di lingkungan sekolah. Sebuah insiden memprihatinkan dilaporkan terjadi di salah satu lembaga pendidikan berbasis homeschooling, yakni Sekolah Dasar Qur’an (SDQ) yang berlokasi di wilayah Kecamatan Kepanjen. Kasus ini menjadi sorotan tajam publik lantaran korbannya adalah seorang anak di bawah umur yang seharusnya mendapatkan perlindungan dan kasih sayang di tempatnya menimba ilmu.
Desakan Keras dari PWI Malang Raya
Menanggapi laporan tersebut, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Malang Raya, Ir. Cahyono, memberikan pernyataan tegas. Ia mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima aduan resmi terkait dugaan kekerasan yang dilakukan oleh oknum pendidik terhadap muridnya. Cahyono menekankan bahwa tindakan semacam ini tidak dapat ditoleransi, apa pun alasannya.
Berdasarkan aduan yang diterima, PWI Malang Raya mendesak agar Aparat Penegak Hukum (APH), dalam hal ini adalah Polres Malang, segera mengambil langkah cepat dan tepat. Proses penyelidikan harus segera dilakukan untuk memastikan keadilan bagi korban dan memberikan efek jera agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan.
"Kami telah mendapatkan aduan mengenai dugaan kekerasan guru terhadap murid. Saya meminta dengan sangat agar Polres Malang segera menindaklanjuti peristiwa ini secara hukum," ujar Cahyono dengan nada bicara yang lugas.
Kronologi Kejadian: Lemparan Botol yang Melukai
Informasi lebih mendalam datang dari pihak keluarga korban. Asroni, kakek dari siswi yang menjadi korban, mengungkapkan rasa kecewa dan kesedihannya atas apa yang menimpa cucunya, yang dalam pemberitaan ini disamarkan dengan nama Tejo.
Peristiwa tragis tersebut dilaporkan terjadi pada Selasa (20/1/2026) di tengah berlangsungnya jam pelajaran. Berikut adalah beberapa poin utama terkait kronologi yang disampaikan oleh pihak keluarga:
Tindakan Agresif: Terduga pelaku adalah seorang guru berinisial T. Tanpa alasan yang jelas, T diduga melemparkan sebuah benda ke arah korban.
Benda yang Digunakan: Berdasarkan pengakuan korban, benda yang dilemparkan adalah sebuah botol plastik keras, yang diidentifikasi menyerupai botol merek Tupperware.
Dampak Fisik: Akibat lemparan benda tumpul tersebut, Tejo mengalami luka serius pada bagian wajah. Bibirnya dilaporkan bengkak dan mengalami pendarahan.
Kondisi Korban: Siswi Kelas 1 dengan Riwayat Medis Khusus
Hal yang paling menyayat hati dalam kasus ini adalah latar belakang kesehatan korban. Tejo, yang baru duduk di bangku kelas 1 Sekolah Dasar, ternyata memiliki kondisi medis yang sangat rentan. Keluarga menjelaskan bahwa anak perempuan tersebut memiliki riwayat kebocoran jantung.
Asroni, yang bertempat tinggal di Jalan Krajan Raya, Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, menegaskan bahwa pihak sekolah sebenarnya sudah mengetahui kondisi kesehatan cucunya sejak awal.
"Cucu saya ini memiliki riwayat sakit jantung, ada kebocoran di jantungnya. Kami sudah menginformasikan hal ini secara terbuka kepada pihak sekolah. Namun, kenyataannya dia justru mendapat perlakuan kasar seperti ini," jelas Asroni dengan penuh rasa sesal saat menemui awak media.
Tindakan kekerasan fisik terhadap anak dengan kondisi jantung yang lemah tentu membawa risiko yang jauh lebih besar, baik secara fisik maupun trauma psikis yang mendalam.
Harapan Keadilan bagi Korban
Hingga saat ini, kasus ini masih dalam tahap awal penanganan setelah diadukan ke organisasi profesi wartawan. Masyarakat Kabupaten Malang berharap agar pihak kepolisian dapat bekerja secara transparan dalam menangani kasus ini. Kekerasan di sekolah, terutama yang melibatkan anak-anak dengan kebutuhan khusus atau kondisi medis tertentu, merupakan pelanggaran serius terhadap Undang-Undang Perlindungan Anak.
Transformasi pendidikan seharusnya mengedepankan pola asuh yang humanis, bukan tindakan represif yang membahayakan nyawa siswa. Kasus di SDQ Homeschooling Kepanjen ini menjadi pengingat keras bagi seluruh instansi pendidikan untuk lebih selektif dalam merekrut tenaga pendidik dan mengawasi setiap interaksi di dalam kelas.


.png)


