GfC8TSAlTSGoTUAoTfz7GpA9TA==

Menuju Episentrum Kreativitas Global: Perjalanan Panjang Malang Menjadi Kota Media Arts Dunia

Malang, malangterkini.id - Keberhasilan Kota Malang menembus jajaran elit UNESCO Creative Cities Network (UCCN) sebagai Kota Kreatif Dunia di bidang Media Arts bukanlah sebuah kebetulan semata. Pencapaian prestisius ini merupakan kristalisasi dari sebuah proses panjang yang melibatkan konsistensi, kolaborasi lintas sektor, dan semangat pergerakan akar rumput yang tak pernah padam. Status ini menjadi bukti nyata bahwa ekosistem kreatif di Bumi Arema telah mencapai standar kualitas yang diakui oleh masyarakat internasional.

Validasi Global atas Kerja Kolektif

Dadik Wahyu Chang, selaku Koordinator Malang Creative Fusion (MCF), menegaskan bahwa predikat dari UNESCO ini tidak boleh dipandang sebagai "hadiah" jatuh dari langit. Sebaliknya, ini adalah buah manis dari kerja keras kolektif yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Menurutnya, penetapan ini adalah bentuk validasi dunia terhadap apa yang selama ini diperjuangkan oleh komunitas, anak muda, dan seluruh elemen kreatif di Malang.

Dadik menggarisbawahi bahwa kekuatan utama Kota Malang tidak terletak pada besarnya anggaran atau kemegahan infrastruktur semata, melainkan pada jejaring kolaborasi yang inklusif. Di Malang, setiap aktor mulai dari komunitas hobi, pelaku industri kreatif, akademisi, hingga birokrasi pemerintahan, memiliki ruang yang setara untuk berkontribusi. Kota ini tumbuh bukan karena dominasi satu pihak, melainkan karena kekuatan sinergi yang membuat semua pihak merasa memiliki. Oleh karena itu, ia mengingatkan agar status ini dijaga dengan kerja nyata yang berkelanjutan, bukan sekadar dirayakan dengan seremoni yang bersifat sesaat.

Dossier UNESCO: Lebih dari Sekadar Dokumen Administratif

Senada dengan pandangan tersebut, Vicky Arief H, Ketua Tim Dossier UNESCO Malang City of Media Arts, mengungkapkan bahwa perjalanan menuju pengakuan dunia ini merupakan proses belajar yang sangat berharga. Baginya, penyusunan berkas (dossier) untuk UNESCO bukan sekadar prosedur administratif untuk memenuhi syarat formal. Momentum ini justru menjadi ajang konsolidasi besar-besaran bagi seluruh ekosistem di Kota Malang.

Melalui penyusunan dossier tersebut, peta kekuatan kota menjadi lebih jelas. Semua pihak jadi memahami siapa melakukan apa, di mana kontribusi mereka diberikan, dan bagaimana masa depan kota ini harus dirancang bersama. Vicky, yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Indonesia Creative Cities Network (ICCN), menekankan bahwa dossier tersebut pada akhirnya bertransformasi menjadi dokumen perencanaan kota yang berbasis pada kreativitas.

Kunci keberhasilan Malang, lanjut Vicky, terletak pada penerapan model kolaborasi Hexahelix. Model ini melibatkan enam pilar utama:

  1. Pemerintah (sebagai regulator dan pendukung).

  2. Akademisi (sebagai penyedia riset dan pengembangan talenta).

  3. Komunitas (sebagai motor penggerak dan penjaga budaya).

  4. Bisnis (sebagai penggerak nilai ekonomi).

  5. Media (sebagai penyebar narasi dan informasi).

  6. Aggregator (sebagai penghubung antar sektor).

Sinergi Hexahelix inilah yang memungkinkan Malang memenuhi standar ketat UNESCO yang menitikberatkan pada keberlanjutan ekosistem, bukan sekadar keberhasilan proyek jangka pendek.

Menghadapi Fase Krusial Pasca-Penetapan

Setelah euforia penetapan mereda, tantangan yang sesungguhnya justru baru saja dimulai. Vicky Arief memandang fase pasca-penetapan sebagai momentum paling krusial. Media Arts tidak boleh berhenti hanya sebagai identitas keren atau label administratif semata. Fokus utama ke depan adalah memastikan bahwa sektor ini memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat luas.

Tantangan besarnya adalah bagaimana Media Arts mampu:

  • Menjadi mesin penggerak ekonomi kerakyatan.

  • Membuka lapangan pekerjaan baru yang relevan dengan perkembangan zaman.

  • Menciptakan masa depan yang cerah bagi generasi muda melalui pemanfaatan teknologi dan seni.

Dadik Wahyu Chang juga mengajak seluruh jejaring dalam Malang Creative Fusion untuk merapatkan barisan. Ia menyerukan pentingnya solidaritas untuk merawat kota ini dengan karya nyata. Baginya, mencintai Malang berarti memiliki tanggung jawab untuk memastikan kota ini tumbuh sehat dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang.

UNESCO sebagai Platform Perubahan Berkelanjutan

Di akhir narasinya, para tokoh ini sepakat bahwa penetapan oleh UNESCO bukanlah garis finis, melainkan garis start. UNESCO hanyalah sebuah platform—sebuah panggung untuk melakukan diplomasi budaya, pengembangan talenta, dan penguatan identitas kota di mata dunia.

Peresmian landmark dan logo Malang City of Media Arts menjadi simbol transisi penting bagi identitas kota. Ini menandai babak baru perubahan Malang yang selama ini dikenal sebagai kota pendidikan, pariwisata, dan industri, kini resmi melangkah sebagai kota kreatif dunia. Landmark tersebut bukan hanya beton fisik, melainkan penanda narasi bahwa kreativitas kini menjadi jantung dari pembangunan kota yang berkelanjutan, baik dari sisi ekonomi, sosial, budaya, hingga lingkungan hidup.

Advertisement
pasang iklan media online nasional pewarta network
Advertisement
pasang iklan media online nasional pewarta network
Advertisement
pasang iklan media online nasional pewarta network

Ketik kata kunci lalu Enter

close
pasang iklan media online nasional pewarta network