GfC8TSAlTSGoTUAoTfz7GpA9TA==

Kenapa Di Malang Lebih Banyak Buruh Wanita Dibandingkan Laki - Laki

Malangmalangterkini.id - Pernah nggak sih WargaTerkini ngeh bahwa di Malang ternyata lebih banyak buruh wanita daripada laki-laki? Fenomena ini bukan sekadar isu lokal, tapi udah jadi tren yang tercatat dalam data-data resmi. Nah, Malang Terkini bakal bahas secara lengkap apa aja faktor yang bikin perempuan dominan di dunia kerja, terutama di sektor tertentu. Yuk, simak!

Fakta Di Lapangan: Data Bicara

Berdasarkan data dari Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), jumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Malang terus meningkat tiap tahun. Pada 2024, tercatat ada 10.288 orang yang bekerja di luar negeri, naik signifikan dari 6.589 orang di 2022 dan 9.322 orang di 2023 .

Yang menarik, sebagian besar PMI ini adalah perempuan. Dari 3.495 orang yang mendaftar melalui layanan resmi, 2.942 adalah perempuan (84,2%), sementara laki-laki hanya 553 orang . Mereka kebanyakan bekerja di sektor informal, seperti asisten rumah tangga (ART) dan caregiver di negara-negara Asia seperti Hong Kong, Taiwan, Malaysia, Jepang, dan Singapura .

Dominasi Perempuan Di Sektor Paruh Waktu Dan Informal

Selain di sektor migran, perempuan juga mendominasi pekerjaan paruh waktu di Malang. Data BPS menunjukkan bahwa 36,66% pekerja perempuan di Indonesia bekerja paruh waktu (kurang dari 35 jam/minggu), sementara laki-laki hanya 18,55% . Tren ini konsisten dari tahun 2023 hingga 2025.

Kenapa Perempuan Memilih Pekerjaan Paruh Waktu?

Berikut ini adalah beberapa alasan utama kenapa banyak perempuan (termasuk di Malang) memilih pekerjaan paruh waktu:

Flexy Time, Bisa Atur Waktu Sesuai Mood

Ini alasan yang paling utama! Pekerjaan paruh waktu nggak datengin jam kaku kayak kantoran. Perempuan bisa ngatur jam kerjanya sendiri, jadi masih bisa nyelipin waktu buat ngurus anak, nemenin keluarga, atau bahkan buat me-time. Intinya, work-life balance jadi lebih gampang dicapai.

Lari dari Toxic Workplace & Diskriminasi Upah

Fakta nunjukin bahwa di banyak sektor formal, perempuan sering dapet gaji lebih rendah daripada laki-laki untuk posisi yang sama (gender pay gap). Belum lagi budaya kantor yang kadang masih toxic atau nggak ramah perempuan. Daripada stres, mending cari kerja paruh waktu yang lebih menghargai kontribusi mereka.

Bebas Milih Pekerjaan yang Sesuai Passion

Dengan kerja paruh waktu—kayak jualan online, jadi freelancer, atau kerja di sektor kreatif—perempuan bisa eksplor hal yang mereka suka tanpa terikat aturan ketat. Hasilnya? Mereka bisa lebih produktif dan merasa lebih puas dengan pekerjaannya.

Tetap Produktif Tanpa Tinggalin Kewajiban Keluarga

Masih kuatnya anggapan sosial bahwa perempuan punya tanggung jawab besar di rumah bikin banyak yang memilih kerja paruh waktu. Jadi, mereka tetap bisa cari cuan tanpa merasa ninggalin peran sebagai ibu atau pengurus rumah tangga.

Era Digital Bikin Semua Jadi Lebih Mudah

Sekarang, cari kerja paruh waktu nggak perlu ribet. Ada platform kayaShopee, Tokopedia, Gojek, Grab, sampai media sosialyang bikin perempuan bisa kerja dari mana aja dan kapan aja. Mau jastip, jadi reseller, atau narikin orderan desain—semua bisa dilakukan lewat genggaman tangan.

Kesenjangan Upah: Perempuan Dibayar Lebih Rendah

Nggak bisa dipungkiri, kesenjangan upah jadi salah satu faktor pendorong. Data BPS per Mei 2025 menunjukkan rata-rata upah bulanan laki-laki mencapai Rp3,4 juta, sementara perempuan hanya Rp2,6 juta (selisih 22,43%) .

Kesenjangan ini terjadi di semua level pendidikan:

  • SD ke bawah: Laki-laki Rp2,4 juta vs perempuan Rp1,27 juta.
  • Sarjana: Laki-laki Rp5,04 juta vs perempuan Rp3,75 juta .

Hal ini bikin banyak perempuan memilih bekerja di luar negeri atau sektor paruh waktu dimana mereka merasa lebih dihargai.

Rendahnya Pendidikan Dan Keterampilan

Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Disnaker Kabupaten Malang, Tri Darmawan, menjelaskan bahwa alasan utama perempuan dominan di sektor informal (seperti ART) adalah karena keterbatasan skill dan latar belakang pendidikan .

Dengan pendidikan yang terbatas, pilihan pekerjaan jadi nggak banyak. Sementara, permintaan untuk pekerja domestik di luar negeri cukup tinggi dan menjanjikan pendapatan yang lebih baik.

Faktor Sosial Dan Budaya 

Berikut ini adalah beberapa faktor sosial dan budaya yang memengaruhi dominasi perempuan di sektor pekerjaan paruh waktu dan informal, khususnya di konteks Indonesia seperti Malang:

Peran Gender Tradisional yang Kuat

Masyarakat masih memegang kuat pandangan bahwa perempuan memiliki peran utama dalam mengurus rumah tangga dan keluarga. Ini membuat banyak perempuan memilih pekerjaan paruh waktu yang fleksibel agar dapat menjalankan tanggung jawab domestik sekaligus berkontribusi secara ekonomi . Pekerjaan dengan jam kerja yang tidak kaku menjadi pilihan yang dianggap lebih sesuai dengan peran gender yang telah ditetapkan secara kultural.

Stereotip Jenis Pekerjaan Perempuan vs Laki-laki

Beberapa jenis pekerjaan, seperti perawatan (caregiver), asisten rumah tangga, penjualan online, atau pekerjaan sektor jasa lainnya, sering dianggap sebagai pekerjaan perempuan . Stereotip ini memperkuat dominasi perempuan di sektor-sektor tersebut, sementara laki-laki lebih didorong untuk masuk ke sektor formal, teknisi, atau posisi yang dianggap memerlukan tenaga fisik.

Dampak Diskriminasi di Sektor Formal

Banyak perempuan menghadapi hambatan struktural seperti kesenjangan upah (gender pay gap), kurangnya peluang promosi, atau budaya kerja yang tidak inklusif di sektor formal . Hal ini mendorong mereka untuk beralih ke sektor paruh waktu atau informal yang dianggap lebih memberikan kontrol atas waktu dan pendapatan, meski seringkali dengan perlindungan kerja yang minim.

Perubahan Nilai dan Preferensi Perempuan Modern

Teori Preferensi (Catherine Hakim) menyatakan bahwa perempuan modern cenderung memilih gaya hidup yang seimbang antara kerja dan keluarga . Mereka tidak selalu mengejar karier penuh waktu, tetapi lebih memilih pekerjaan yang memungkinkan mereka tetap produktif secara ekonomi tanpa mengabaikan kehidupan pribadi dan keluarga.

Upaya Pemerintah Dan Masa Depan

Disnaker Kabupaten Malang udah ngelakuin beberapa upaya, kayak pelatihan digital marketing dan pengolahan produk pertanian buat ningkatin kompetensi tenaga kerja .

Selain itu, BP2MI Malang juga udah pindah ke lokasi yang lebih strategis buat memudahkan akses pelayanan bagi PMI .

Tapi, masih diperlukan komitmen lebih besar buat ngatasi kesenjangan gender di dunia kerja, baik dari pemerintah maupun swasta.

Kesimpulan

Jadi dominasi perempuan di dunia kerja Malang, terutama di sektor informal dan paruh waktu, dipengaruhi oleh faktor pendidikan, kesenjangan upah, budaya, dan diskriminasi struktural.

Perlu ada kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan swasta buat bikin dunia kerja yang lebih adil dan inklusif. Perempuan punya potensi besar, dan dengan dukungan yang tepat, mereka bisa berkontribusi lebih baik lagi untuk perekonomian daerah.

Yuk, dukung kesetaraan di dunia kerja!

Advertisement
pasang iklan media online nasional pewarta network
Advertisement
pasang iklan media online nasional pewarta network
Advertisement
pasang iklan media online nasional pewarta network

Ketik kata kunci lalu Enter

close
pasang iklan media online nasional pewarta network