Malang, malangterkini.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang secara resmi menyatakan dukungan penuhnya terhadap upaya pengajuan gelar Pahlawan Nasional bagi Mayor Hamid Rusdi, seorang tokoh pejuang kemerdekaan yang memiliki peran sentral dalam sejarah kota tersebut. Dukungan ini disampaikan langsung oleh Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, dan menandai langkah awal Pemkot dalam mendampingi proses pengusulan yang diajukan oleh salah satu perguruan tinggi di Malang.
Wali Kota Wahyu Hidayat menegaskan komitmennya saat menghadiri acara Gerakan Penanaman 1.000 Pohon Durian yang diadakan di kawasan Monumen Mayor Hamid Rusdi, Kelurahan Wonokoyo, Kecamatan Kedungkandang.
"Kami dukung dan kami dampingi secara totalitas. Kami sadar, proses untuk penetapan gelar Pahlawan Nasional ini tidak mudah. Ini adalah proses yang panjang dan bertahap, melibatkan jalur dari Pemkot, diteruskan ke tingkat Provinsi, hingga akhirnya diputuskan oleh Pemerintah Pusat," ujar Wahyu di Malang.
Proses Administrasi Terus Dikebut
Saat ini, Pemkot Malang tengah fokus untuk melengkapi berbagai persyaratan administrasi dan dokumen-dokumen pendukung yang krusial bagi pengajuan gelar kehormatan tersebut. Meskipun proses ini memerlukan ketelitian dan waktu, Wahyu Hidayat memastikan bahwa pihaknya terus berkoordinasi erat dengan pihak pengusul, yakni akademisi dari universitas setempat.
"Saat ini, kami masih dalam tahapan intensif untuk pemenuhan berkas yang disyaratkan. Komunikasi terus kami jaga dengan pihak pengusul agar seluruh proses dapat berjalan efisien dan secepat mungkin," jelasnya.
Mayor Hamid Rusdi: Sang Pejuang dan Inovator Bahasa
Dukungan kuat Pemkot Malang terhadap usulan gelar ini didasarkan pada rekam jejak historis Mayor Hamid Rusdi yang dinilai sangat signifikan dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia, khususnya di wilayah Malang Raya.
Salah satu kontribusi paling unik dan abadi dari Hamid Rusdi adalah penciptaan Bahasa Walikan. Bahasa khas Malang yang membalik susunan kata ini bukanlah sekadar kekhasan budaya, melainkan lahir dari kebutuhan taktis militer. Bahasa Walikan awalnya diciptakan dan digunakan oleh kelompok Gerilya Rakyat Kota (GRK) yang dipimpinnya sebagai kode rahasia.
Pada masa genting Agresi Militer Belanda II tahun 1949, penggunaan bahasa sandi ini memungkinkan para pejuang untuk berkomunikasi secara aman tanpa khawatir pesan mereka akan dipahami oleh pihak penjajah. Kecerdasan taktis dalam menciptakan sandi verbal ini kini telah bertransformasi menjadi identitas budaya dan bahasa pergaulan sehari-hari yang sangat ikonik bagi Kota Malang.
Jejak Kehidupan dan Militer Sang Patriot
Mayor Hamid Rusdi lahir pada tahun 1911 di Desa Sumbermanjing Kulon, Kabupaten Malang, dari keluarga terpandang. Meskipun berasal dari keluarga berada—ayahnya, H. Umar Roesdi, adalah seorang tuan tanah—semangat patriotisme dan disiplinnya terasah sejak dini. Ia aktif dalam organisasi kepemudaan Pandu Ansor, yang merupakan cikal bakal dari Gerakan Pemuda Ansor Nahdlatul Ulama.
Sebelum terjun ke dunia militer, Hamid Rusdi sempat bekerja di Lembaga Pemasyarakatan Lowokwaru. Bakat militer dan kemampuan taktisnya mulai terasah saat masa pendudukan Jepang, di mana ia menerima pelatihan khusus.
Pasca-kemerdekaan, ia langsung bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR), yang kelak bertransformasi menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Keterlibatannya langsung terukir dalam berbagai pertempuran penting, termasuk melawan pasukan Belanda pada Agresi Militer I dan II, serta penanganan Pemberontakan PKI di wilayah Malang Selatan.
Sayangnya, perjuangan heroik Mayor Hamid Rusdi harus berakhir tragis. Menurut catatan resmi Kodam V/Brawijaya, ia ditangkap oleh tentara Belanda di kawasan Sekarputih dan dieksekusi di Wonokoyo. Setelah sempat dimakamkan di pemakaman umum setempat, jenazahnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Untung Suropati pada dekade 1980-an, sebuah pengakuan awal atas jasanya.
Warisan yang Abadi
Nama Mayor Hamid Rusdi saat ini telah terabadikan sebagai bentuk penghormatan dan pengingat bagi generasi penerus. Monumen megahnya berdiri tegak di Simpang Balapan, Kecamatan Klojen. Namanya juga menjadi nama jalan utama serta nama terminal penting di Kota Malang.
Bagi masyarakat Malang, Mayor Hamid Rusdi bukan sekadar figur sejarah, melainkan simbol ketahanan, kecerdikan, dan semangat pantang menyerah dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan, dengan warisan budaya unik berupa Bahasa Walikan yang terus hidup hingga kini.


.png)


