Malang, malangterkini.id - Otoritas pengelola kawasan konservasi telah mengambil langkah pencegahan yang signifikan untuk menjamin keselamatan publik dan menjaga ekosistem alam. Secara resmi, seluruh jalur pendakian menuju puncak Gunung Arjuno dan Gunung Welirang telah dinyatakan ditutup untuk sementara waktu. Keputusan mendadak ini merupakan respons langsung terhadap laporan dan peringatan prakiraan cuaca ekstrem yang baru saja dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk periode bulan November 2025.
Penutupan total ini mencakup semua akses masuk pendakian yang biasa digunakan oleh para pecinta alam dan pegiat kegiatan luar ruangan. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, Ibu Agustiningtyas Marini, mengonfirmasi cakupan penutupan tersebut.
Beliau merinci bahwa penutupan diberlakukan pada seluruh pintu masuk atau jalur pendakian yang tersebar di beberapa wilayah administrasi, yaitu:
Jalur via Lawang, yang berada di Kabupaten Malang.
Jalur via Sumber Brantas, yang terletak di wilayah Kota Batu.
Jalur via Tretes, di Kabupaten Pasuruan.
Jalur via Tambaksari, juga di Kabupaten Pasuruan.
Keputusan penutupan ini, menurut Agustiningtyas Marini, diambil dengan dasar pertimbangan utama mengenai keselamatan jiwa para pendaki. Pihak UPT Tahura Raden Soerjo bertindak proaktif dalam mengantisipasi potensi bahaya yang sangat besar yang mungkin timbul sebagai dampak langsung dari kondisi cuaca ekstrem, sebagaimana yang telah diperingatkan oleh BMKG.
"Menjelang dan memasuki periode musim hujan, yang karakteristiknya sering kali disertai dengan intensitas angin kencang dan sambaran petir yang tinggi, kami memutuskan untuk menutup seluruh aktivitas pendakian Gunung Arjuno dan Welirang," jelas Ibu Agustiningtyas pada hari Selasa (18/11/2025).
Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa penutupan ini telah mulai berlaku secara efektif sejak tanggal 16 November 2025. Penetapan tanggal ini merupakan bagian dari upaya mitigasi risiko yang ketat, di mana faktor utama dan yang paling dipertimbangkan adalah untuk memastikan keselamatan setiap individu yang berencana atau mungkin sedang berada di jalur pendakian.
Selain pertimbangan mendesak mengenai faktor keselamatan para pendaki dari ancaman cuaca ekstrem, UPT Tahura Raden Soerjo juga mengambil kesempatan dari periode penutupan ini untuk fokus pada aspek yang tidak kalah penting: pemulihan dan konservasi ekosistem di dalam kawasan Tahura Raden Soerjo. Periode tanpa aktivitas pendakian manusia memberikan ruang bernapas bagi alam untuk meregenerasi diri, meminimalkan gangguan terhadap flora dan fauna, serta membantu proses pemulihan jalur-jalur yang mungkin mengalami kerusakan akibat penggunaan intensif atau dampak awal dari cuaca buruk.
Pihak UPT Tahura Raden Soerjo menginformasikan bahwa penutupan ini diberlakukan hingga batas waktu yang belum dapat ditentukan secara pasti. Penutupan akan tetap berlaku sampai adanya perubahan kondisi. Pembukaan kembali jalur pendakian baru akan dipertimbangkan dan dilakukan apabila seluruh kondisi cuaca di dalam kawasan pegunungan tersebut telah secara resmi dinyatakan aman, stabil, dan kondusif kembali untuk dilaksanakannya kegiatan pendakian. Keputusan untuk membuka kembali akan didasarkan pada evaluasi menyeluruh dan data cuaca terkini dari otoritas terkait.
Meskipun aktivitas pendakian dihentikan sementara, UPT Tahura Raden Soerjo memastikan bahwa kegiatan operasional penting lainnya di lapangan tetap berjalan dengan intensitas tinggi. Selama masa penutupan, tim lapangan akan melaksanakan patroli rutin setiap hari. Kegiatan patroli ini memiliki dua tujuan utama yang krusial:
Pengamanan Kawasan Hutan: Patroli dilaksanakan guna memastikan keamanan wilayah hutan dari berbagai potensi gangguan kejahatan lingkungan, seperti perburuan liar terhadap satwa, dan juga kegiatan penebangan liar atau ilegal logging.
Penertiban Pendakian Ilegal: Patroli juga dilakukan secara rutin dan intensif untuk menjamin bahwa tidak ada satu pun anggota masyarakat atau pendaki yang mencoba masuk dan melakukan aktivitas pendakian secara diam-diam atau ilegal ke kawasan Gunung Arjuno dan Gunung Welirang.
"Kami telah menyusun jadwal patroli yang ketat, khususnya difokuskan pada jalur-jalur pendakian resmi dan juga titik-titik yang dianggap rawan dan seringkali dimanfaatkan sebagai akses oleh pendaki ilegal," ujar Agustiningtyas, menekankan keseriusan pihak pengelola dalam menegakkan aturan penutupan sementara ini.
Di samping keputusan penutupan total jalur utama Gunung Arjuno dan Welirang, UPT Tahura Raden Soerjo juga memastikan adanya pengecualian untuk beberapa destinasi lain yang berada di dalam lingkup kawasan Tahura. Khusus untuk jalur pendakian menuju beberapa puncak yang lebih rendah atau destinasi wisata tertentu, kegiatan tetap dibuka, namun dengan penerapan pengecualian yang ketat. Destinasi yang tetap dibuka meliputi:
Puncak Lincing
Gunung Pundak
Bukit Cendono
Bukit Semar
Watu Jengger
Serta seluruh lokasi wisata religi yang ada di kawasan tersebut.
Penting untuk dicatat bahwa meskipun destinasi-destinasi tersebut tetap dibuka, pihak UPT Tahura Raden Soerjo menambahkan catatan penting. "Aktivitas pendakian atau kunjungan ke destinasi-destinasi tersebut juga akan ditutup sewaktu-waktu," tegas beliau sebagai penutup. Penutupan darurat ini akan segera dilakukan apabila kondisi cuaca di lokasi tersebut sewaktu-waktu memburuk, tidak memungkinkan, atau dinyatakan tidak kondusif lagi untuk keselamatan pengunjung. Hal ini menunjukkan bahwa keselamatan tetap menjadi prioritas tertinggi dalam setiap operasional kawasan Tahura Raden Soerjo.
Dengan adanya pengumuman ini, masyarakat dan para calon pendaki diminta untuk mematuhi kebijakan penutupan sementara ini demi keselamatan bersama dan juga sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pemulihan ekosistem di kawasan konservasi.


.png)


