GfC8TSAlTSGoTUAoTfz7GpA9TA==

Badai di Kandang Kanjuruhan: Mengurai Benang Kusut Anjloknya Harga Kambing dan Jeritan Peternak Malang

Malang, malangterkini.id - Sektor peternakan di Kabupaten Malang, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi kerakyatan di wilayah "Bumi Kanjuruhan", kini tengah menghadapi masa-masa paling kelam. Para peternak kambing dan domba di wilayah ini dipaksa berhadapan dengan realitas pahit: harga pasaran yang terjun bebas, permintaan yang sepi, hingga gempuran komoditas impor yang tak terkendali.

Potret Lesu Ekonomi di Tingkat Peternak

Kondisi ini bukan sekadar fluktuasi harga biasa. Menurut M. Aris Wahyudi, Ketua DPD Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) Provinsi Jawa Timur, penurunan harga ini sudah mencapai tahap yang mengkhawatirkan. Dalam pantauan di lapangan hingga Rabu, 24 Desember 2025, harga kambing hidup mengalami depresiasi yang signifikan.

Tabel Perbandingan Harga Kambing Hidup (Per Kilogram):

Jenis KelaminHarga Normal (Rp)Harga Saat Ini (Rp)Penurunan (%)
Betina60.000 /kg40.000 /kg~33%
Jantan65.000 /kg45.000 /kg~30%

Data tersebut menunjukkan bahwa peternak kehilangan hampir sepertiga dari pendapatan potensial mereka untuk setiap kilogram berat hewan yang mereka jual.

Empat Faktor Utama di Balik Anjloknya Harga

Aris Wahyudi mengidentifikasi setidaknya ada empat faktor sistemis yang menjadi biang keladi di balik lesunya pasar kambing di Jawa Timur, khususnya Malang.

1. Merosotnya Daya Beli dan Pergeseran Konsumsi

Masyarakat saat ini cenderung lebih selektif dalam membelanjakan uang untuk asupan protein. Akibat tekanan ekonomi, banyak warga beralih dari daging kambing ke sumber protein yang lebih terjangkau seperti telur ayam dan daging ayam ras.

Selain faktor ekonomi, terdapat kendala psikologis berupa stigma kesehatan. Masih banyak masyarakat yang dihantui mitos atau informasi yang kurang tepat bahwa mengonsumsi daging kambing secara langsung memicu hipertensi (darah tinggi), yang pada akhirnya semakin menekan tingkat konsumsi domestik.

2. Rantai Pasok yang Terputus

Permintaan dari sektor-sektor kunci seperti jasa katering, penyedia layanan aqiqah, hingga rumah makan spesialis sate mengalami penurunan drastis. Fenomena unik juga terjadi di hilir: banyak pemilik warung sate kini mulai membangun peternakan sendiri untuk menjamin stok mereka. Hal ini memang baik bagi efisiensi usaha mereka, namun mematikan pasar bagi peternak rakyat yang biasanya menjadi pemasok utama.

Di pasar tradisional, kondisinya tak kalah memprihatinkan. Di Pasar Kepanjen, misalnya, jumlah pedagang daging kambing bisa dihitung jari—hanya dua hingga tiga orang saja. Bahkan, seringkali satu ekor kambing harus dibagi oleh dua pedagang karena minimnya pembeli.

3. Masalah Kesehatan Hewan (PMK)

Meskipun penanganan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) terus dilakukan, bayang-bayang penyakit ini masih menyisakan trauma bagi pasar. Pembatasan mobilitas ternak di beberapa titik dan ketakutan konsumen akan kualitas daging membuat perputaran uang di pasar hewan tidak selancar periode sebelum pandemi PMK melanda.

4. Ketidakseimbangan Supply dan Demand

Ledakan jumlah peternak baru menjadi pedang bermata dua. Banyak orang terjun ke dunia peternakan domba dan kambing dalam skala besar tanpa memiliki jaringan pasar yang kuat di hilir. Saat tiba masa panen secara bersamaan, pasar kelebihan pasokan (oversupply), yang secara otomatis menekan harga hingga ke level terendah.

Isu Daging Impor: Regulasi yang Bocor?

Salah satu poin krusial yang disoroti oleh HPDKI adalah keberadaan daging kambing impor, terutama jenis Boer dari Australia dan Selandia Baru. Awalnya, impor ini bertujuan untuk perbaikan genetik kambing lokal agar masa panen bisa dipersingkat dari satu tahun menjadi tiga bulan melalui kawin silang.

Namun, realitanya justru berbeda. Meskipun Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) telah merekomendasikan penghentian impor per Desember 2024, "pemain-pemain besar" disinyalir masih menghabiskan kuota impor lama mereka. Ironisnya, daging yang seharusnya hanya didistribusikan untuk sektor Horeka (Hotel, Restoran, Kafe), justru merembes masuk ke pasar-pasar tradisional, sehingga menghancurkan harga kambing lokal.

Laporan dari Lapangan: Sepinya Kandang Penggemukan

Kondisi serupa dirasakan oleh Goat Shelter, sebuah usaha penggemukan khusus di Desa Dilem, Kecamatan Kepanjen. Bayu Anan Firmansyah, pengurus di sana, mengungkapkan bahwa stok kambing di kandangnya kini lebih banyak menjadi pajangan menunggu pembeli yang tak kunjung datang.

Dahulu, peternakan ini rutin mengirimkan 200 hingga 250 ekor kambing ke luar pulau seperti Kalimantan dan Sulawesi untuk memenuhi kebutuhan warung sate di sana. Namun, pengiriman terakhir dilakukan pada Oktober lalu, dan hingga kini belum ada pesanan baru yang masuk.

"Sekarang benar-benar masa murah. Satu ekor kambing Jawa Randu yang biasanya laku Rp 2 juta saat musim kurban, kini hanya dihargai sekitar Rp 1,6 juta. Harga terus fluktuatif mengikuti pasar yang sedang lesu," ujar Bayu.

Harapan dan Langkah Ke Depan

Krisis yang dialami oleh lebih dari seribu peternak di wilayah Dampit, Wonosari, Tirtoyudo, hingga Ampelgading ini memerlukan intervensi serius dari pemerintah daerah. Tanpa adanya perlindungan harga, pembenahan tata niaga impor, dan edukasi konsumsi daging kambing kepada masyarakat, masa depan peternak mandiri di Kabupaten Malang terancam gulung tikar.

Momentum ini harus menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal ketersediaan stok, tetapi juga soal kesejahteraan para peternak yang berjuang di garda terdepan.

Advertisement
pasang iklan media online nasional pewarta network
Advertisement
pasang iklan media online nasional pewarta network
Advertisement
pasang iklan media online nasional pewarta network

Ketik kata kunci lalu Enter

close
pasang iklan media online nasional pewarta network