Malang, malangterkini.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang tengah mematangkan langkah strategis untuk mengintegrasikan program bantuan sosial dengan pengembangan sektor pariwisata berkelanjutan. Melalui inisiatif terbaru, otoritas setempat bersiap meluncurkan program becak listrik yang ditujukan khusus bagi ratusan pengemudi becak yang tergolong dalam kelompok masyarakat miskin ekstrem dan rentan.
Program inovatif ini dirancang bukan sekadar sebagai instrumen bantuan sosial konvensional, melainkan sebagai upaya ganda: meningkatkan taraf ekonomi masyarakat bawah sekaligus memperkuat citra Kota Malang sebagai destinasi wisata ramah lingkungan.
Verifikasi Ketat Calon Penerima
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Malang, Donny Sandito, mengungkapkan bahwa pada fase perdana ini, kuota yang disediakan mencapai 100 unit becak listrik. Angka tersebut didasarkan pada hasil verifikasi dan validasi data lapangan yang dilakukan secara ketat oleh pihak Dinsos untuk memastikan bantuan tepat sasaran.
"Kami telah mengajukan dan memvalidasi data 100 calon penerima. Berdasarkan hasil pengecekan, mayoritas atau sekitar 90 persen dari mereka berada pada kategori desil 1 hingga 5, yang berarti masuk dalam kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan rendah hingga miskin ekstrem," jelas Donny pada Kamis (15/1/2026).
Meskipun fokus utama adalah desil 1-5, Donny menambahkan bahwa terdapat sebagian kecil penerima yang berada di desil 6, namun tetap memenuhi kriteria sebagai pengemudi becak aktif yang membutuhkan dukungan sarana kerja modern.
Sinergi Antar-Perangkat Daerah
Keberhasilan program ini bergantung pada kolaborasi lintas sektoral. Donny menekankan bahwa Dinsos tidak bekerja sendiri dalam menghimpun data. Proses pendataan awal melibatkan berbagai pihak, mulai dari:
Dinas Perhubungan (Dishub) untuk pemetaan mobilitas.
Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) untuk keterkaitan dengan titik wisata.
Paguyuban Becak sebagai representasi komunitas.
Pemerintah Kelurahan sebagai ujung tombak data kewilayahan.
"Dinsos memiliki peran spesifik dalam memverifikasi data agar selaras dengan target pengentasan kemiskinan. Namun, urusan teknis seperti infrastruktur pengisian daya (charging station) hingga pengaturan titik mangkal akan menjadi wewenang penuh Dishub dan Disporapar," tambah Donny.
Mendorong Kesejahteraan dan Kualitas Layanan Wisata
Dari sudut pandang pariwisata, Kepala Disporapar Kota Malang, Baihaqi, melihat kehadiran becak listrik sebagai solusi atas kendala fisik yang selama ini dialami pengayuh becak tradisional. Dengan bantuan motor listrik, para pengemudi diharapkan dapat bekerja lebih efisien tanpa menguras tenaga secara berlebihan, sehingga kualitas layanan kepada wisatawan pun meningkat.
"Harapan besar kami adalah terciptanya dampak domino. Selain meningkatkan kualitas pelayanan di kawasan wisata, kesejahteraan para pengayuh becak yang semula konvensional kini dapat terangkat melalui modernisasi ini," tutur Baihaqi.
Lokasi Operasional dan Target Peluncuran
Rencananya, armada becak listrik ini akan dikonsentrasikan di titik-titik vital yang menjadi ikon pariwisata dan pusat keramaian di Kota Malang. Beberapa lokasi yang telah dipetakan antara lain:
Kawasan Kayutangan Heritage (pusat wisata sejarah).
Area perhotelan strategis.
Pusat perbelanjaan utama.
Destinasi wisata edukasi dan taman kota.
Pemerintah Kota Malang menargetkan distribusi unit ini dapat terlaksana pada akhir Januari 2026. Dengan demikian, wisatawan yang berkunjung ke Kota Malang dalam waktu dekat sudah bisa menikmati fasilitas transportasi ramah lingkungan ini sebagai bagian dari pengalaman berwisata di "Kota Bunga".


.png)


