Malang, malangterkini.id - Kota Malang kini tengah menjadi sorotan di Jawa Timur setelah terdeteksinya temuan kasus infeksi virus Influenza A subtipe H3N2 subclade K. Fenomena medis yang di masyarakat luas lebih populer dengan istilah "Super Flu" ini sempat memicu perbincangan hangat di kalangan warga. Meski demikian, Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Kesehatan memberikan jaminan bahwa situasi saat ini sepenuhnya berada di bawah kendali otoritas terkait.
Meluruskan Mitos di Balik Istilah "Super Flu"
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, dr. Husnul Muarif, memberikan penjelasan mendalam guna meredam keresahan publik. Beliau menekankan bahwa istilah "super" yang melekat pada virus ini bukan berarti menunjukkan tingkat bahaya yang mematikan secara ekstrem. Sebaliknya, penamaan tersebut lebih merujuk pada aspek teknis mengenai mutasi genetik yang dialami oleh virus influenza tersebut.
Menurut dr. Husnul, posisi Indonesia sebagai negara tropis memang menjadikannya lingkungan yang sangat ideal bagi perkembangbiakan mikroorganisme. Bakteri dan virus, termasuk keluarga influenza, memiliki kemampuan alami untuk terus tumbuh dan bermutasi di iklim seperti ini. H3N2 subclade K atau Superclade K hanyalah salah satu bentuk varian baru dari virus influenza A yang memang sudah lama bersirkulasi di tengah masyarakat.
Sistem Pemantauan (Surveilans) yang Ketat
Dalam mendeteksi penyebaran virus ini, Kota Malang mengandalkan sistem surveilans yang terintegrasi di dua fasilitas kesehatan utama yang ditunjuk sebagai sentinel:
Puskesmas Dinoyo: Bertugas memantau kasus Influenza-Like Illness (ILI). Kategori ini mencakup pasien yang menunjukkan gejala klinis umum seperti demam di atas 38 derajat celsius, batuk, nyeri tenggorokan, serta sakit kepala.
Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA): Fokus pada pemantauan Severe Acute Respiratory Infection (SARI). Fasilitas ini menangani kasus infeksi saluran pernapasan akut dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi.
Mekanisme pemeriksaannya pun dilakukan secara berlapis. Sampel yang diambil dari kedua fasilitas tersebut akan dikirimkan ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Lingkungan (BBKLM) Surabaya. Jika ditemukan indikasi yang kuat, petugas akan melanjutkan proses dengan metode Whole Genome Sequencing (WGS). Langkah ini diambil untuk memastikan secara akurat jenis dan karakteristik mutasi virus yang menjangkiti pasien.
Data Kasus dan Kondisi Terkini
Berdasarkan laporan hasil surveilans sepanjang akhir tahun 2025, tercatat beberapa temuan kasus di Kota Malang:
September 2025: Ditemukan 1 kasus terkonfirmasi.
Oktober 2025: Kembali terdeteksi 1 kasus serupa.
November 2025: Terdapat laporan beberapa kasus tambahan.
Secara kumulatif, total terdapat 17 kasus yang tercatat secara resmi. Namun, dr. Husnul menegaskan sebuah kabar baik: seluruh pasien tersebut telah dinyatakan sembuh total. Mereka kini sudah kembali menjalani aktivitas sehari-hari tanpa kendala kesehatan yang berarti. Selain itu, upaya tracing atau pelacakan terhadap kontak erat juga telah selesai dilakukan, dengan hasil yang menunjukkan kondisi lingkungan sekitar pasien tetap aman.
Hingga memasuki periode Desember 2025 dan awal Januari 2026, Dinas Kesehatan melaporkan bahwa belum ada temuan kasus baru yang masuk ke meja mereka. Hal ini menunjukkan bahwa tren penyebaran cenderung melandai dan terkendali.
Langkah Pencegahan bagi Masyarakat
Meskipun situasi terkendali, masyarakat diimbau untuk tidak lengah dan tetap mengedepankan kewaspadaan diri. Dinas Kesehatan Kota Malang menyarankan beberapa langkah preventif yang sederhana namun efektif:
Penggunaan Masker: Sangat dianjurkan saat sedang merasa kurang sehat atau ketika berada di tengah kerumunan massa.
Kebersihan Tangan: Rutin mencuci tangan dengan sabun sebagai benteng utama melawan kuman.
Imunitas Tubuh: Menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi asupan gizi yang seimbang dan istirahat yang cukup.
Vaksinasi: Melakukan vaksinasi influenza secara berkala sebagai perlindungan tambahan.
"Kita semua telah belajar banyak dari pengalaman menghadapi pandemi sebelumnya. Kunci utamanya bukanlah rasa takut yang berlebihan, melainkan kewaspadaan dan kedisiplinan dalam menjaga protokol kesehatan," pungkas dr. Husnul.


.png)


